Berawal ketika ada persetegangan dalam keluarga yang bertema “anak hilang”. Ketakutan seorang ibu ketika mempunyai anak gadis yang menginjak dewasa, karena dipungkiri atau tidak suatu saat pasti akan ada pangeran berkuda putih yang akan membawa puteri kecilnya ke kerajaannya sendiri. Apalagi dengan hanya dua puteri, yang sulung sudah menikah dan punya rumah sendiri di kota sebelah.
Berita jika si bungsu mempunyai teman dekat laki-laki membuat sang ibu hanya bisa tersenyum, mungkin dalam batinya (wes gede rek anakku, he,,). Namun ketika mendengar berita selanjutnya bahwa teman laki-laki putrinya itu adalah berasal dari luar pulau di negeri antah berantah yang bahkan sinyal pun sulit dan jarang mampir ke telepon seluler, membuat sang ibu ketar ketir. Hal ini membuatnya hanya bisa menelan ludah tak rela jika membayangkan sang anak dibawa kesana. Tak mungkin jika terang-terangan untuk melarang. Iya kalau disana hidupnya mapan alias kaya bisa satu tahun sekali pulang, jika hidupnya hanya biasa-biasa saja bisa-bisa puterinya tadi jadi anak hilang yang tak pernah pulang.
Berita selanjutnya membuat sang ibu bisa bernafas sedikit lebih lega. Karena ternyata si puteri kecilnya sudah putus hubungan dengan teman laki-lakinya itu. Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan sang ibu ternyata punya rencana lain. Ternyata sang ibu punya pangeran idaman lain untuk si putri kecil. Dengan segala daya upaya sang ibu berusaha membujuk puterinya, atau istilahnya ngompor-ngomporin agar si anak mau untuk suka dengan tetangga sebelah “pager ijo”. Si “pager ijo” yang lebih tua dua tahun dari puteri kecil tadi setelah ditelusuri ternyata adalah seorang atlet lokal. Pemain sepak bola didesa sang ibu dan puterinya tinggal. Dulu ia kuliah jurusan olahraga di salah satu universitas di Surabaya. Juga ngajar ekstra renang di salah satu sma negeri di kota tuban. Anak seorang guru agama, keluarganya juga terpandang sebagai seorang kamdiyah.
Hubungan yang baik antara kedua keluarga mungkin juga menjadi salah satu alasan kenapa sang ibu begitu ngebet gebetin puterinya itu. Salah satu alasan lain lagi adalah mungkin karena si puteri kecilnya itu dulu sewaktu masih kecil (kalau gak salah waktu duduk di bangku sma) kagum pada sosok “pager ijo” hanya karena orangnya pendiam dan kelihatannya gak neko-neko, info itu didapat dari puteri sulungnya. Padahal si puteri kecilnya tadi dulu hanya sebatas kagum tidak lebih itupun hanya waktu itu. Namanya saja lagi puber.haha..pasti ada benih-benih bunga tak semestinya tumbuh. padahal hanya saat itu saja kagumnya, setelah itu yo gak, biasa aja.
Sang ibu selalu ngompor-ngomporin agar si puterinya tadi mau dan suka pada “pager ijo”. Sampai-sampai jika si anak ada dirumah bosan mendengar ibunya godain serta hanya bisa tersenyum dan tersipu malu karena digoda didepan banyak orang. Ia sudah membayangkan betapa tidak relanya ia ketika melihat suaminya mengajari renang cewek-cewek. Ah bukan itu saja yang jadi pertimbangan kenapa si puteri kecil tadi ogah dan tidak mau menambatkan hati pada tuan “pager ijo” tapi masih banyak yang lain yang menjadi pertimbangan. dan yang paling utama karna memang gak seneng, lha nek gak seneng terus piye. Walaupun jika seandainya perjodohan itu jadi, ia tak mungkin bisa menolak dan hanya bisa “sami’na waato’na”.
Disuatu hari sang ibu diteri gemblong oleh adik perempuan dari si “pager ijo” katanya kakaknya sudah digemblong alias lamaran dengan cewek yang juga satu desa. Akhirnya sang ibu bercerita pada si puteri kecilnya. Si anak hanya tertawa mendengar sang ibu bercerita, terlihat gurat kekecewaan sang ibu yang tadinya begitu ngotot dan ngebet untuk gebetin puterinya itu. Namun disisi lain si anak tersenyum lega akhirnya mau nikah juga tuh orang. Biar si ibu gak macem-macem mau jodoh-jodohin lagi.
Ibu jangan kuatirkan puterimu ini. Tenang saja, aku tahu apa maumu. Kalaupun tidak satu kota, tetangga kota juga tak apa kan? Minimal masih satu pulau seperti maumu. insyaAllah yang terbaiklah yang akan kubawa kehadapanmu Ibu. Itulah kenapa walaupun dulu tuan sebrang pulau nekat maksa untuk datang kerumah aku tak pernah mau. Akupun masih akan mikir-mikir ribuan kali untuk jadi anak hilang, apalagi tanpa restumu tak perlu mikir pun akan kutinggalkan. Doakan saja puterimu ini mendapatkan yang terbaik. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar