Rabu, 31 Oktober 2012
Senin, 24 September 2012
MERINDU
Rindu yang membara
Diantara belantara hujan gerimis yang mendera
Jauh..jauh..
Sudah terlampau jauh aku melemparkan diri
Namun kini aku merindu untuk kembali
Kembali bergandeng tangan dengan kalian dan ikut berlari
Rintik-rintik sajak berjatuhan dalam gerimis pagi ini
Menelurkan asa menuai harap
Dalam senja kalbuku yang semakin dalam
Jauh sudah terdampar dalam jalan sunyi
Ayolah kita kembali berlari
Bosan sudah, aku hening dalam rinai ini
Semakin lama berada dalam nyala hening
Semakin yakin ini tak sekedar kape-kape
Inilah jalan pasti dengan nyala terang di penghujung jalan
Merindu untuk kembali berdekap denganmu
Menyusuri jalan itu.
_Nee_
24 SEPTEMBER 2012
Jumat, 07 September 2012
AKU HANYA WANITA BIASA
Aku takut sekali bahwa pertahananku akan meruntuh dengan aku berlutut di depannya dengan luka yang menganga. Bagaimana pun aku adalah wanita. Aku takut suatu saat tak dapat menahan diri. Kamu tahu kan wanita itu gimana?
Masih teringat dengan jelas bagaimana rasa sakit yang mendera, masih terekam dengan jelas bagaimana sakitnya babak belur itu. Ah, baru saja aku bangkit apakah akan mengulangi rasa yang sama seperti dulu. Tak bisa dipungkiri dia memang menarik. Tulisannya membuat banyak wanita menaruh perhatian terhadapnya. Tapi jujur bukan itu saja yang membuatku terbius. Ada beberapa hal tak terdefinisi yang membuatnya hidup dalam ingatanku. Entahlah, aku menyukai semua tentangnya, bahkan yang orang lain tak menyukainya. Aku menyukai semua tentangnya.
Aku hanya wanita biasa, mungkin wajar saja bila kadang terlintas dalam anganku untuk berharap padanya. Aku hanya wanita biasa. Aku tak mampu jika harus merasakan rasa sakit seperti dulu. Aku takut jika harus sakit dan hancur lebur seperti dulu. Aku tak mau mengulanginya lagi. Aku sungguh takut.
Aku tak sanggup jika harus merasakan setiap inci dari perasaanku terkuras tercincang dan terpukul rata. Mungkin karena sikap pengecutku itulah yang membuatku seperti ini. Aku memang terlalu takut menghadapi perasaan itu. Apalagi jika harus mengakuinya. Semua tak lebih karena rasa takut untuk merasakan sakit. Aku hanya takut suatu saat pertahananku meruntuh.
**
Cerita-cerita itu terkadang membuatku terhenyak. Namun aku tetap saja tak peduli seolah aku tuli. Atau pura-pura tuli?. Aku hanya bisa tersenyum saat mendengarnya dengan semangat bercerita tentangmu. Kalau saja dia tahu bahwa aku ingin menutup telingaku saat itu pura-pura tak mendengar saja. Namun aku tetap saja mendengarnya dan hanya bisa tersenyum. Tidak hanya dia yang ada didekatku, tak berapa lama orang lain yang pernah dekat denganmu pun bercerita dengan semangat 45 tentangmu. Tentang kebersamaan kalian. Aku serasa ingin tuli atau minimal aku ingin mempercayai bahwa dua orang yang bercerita ini bukan kamu yang dimaksud. Aku tak ingin percaya bahwa dua orang ini begitu menggilaimu, begitu terobsesi dan menyukaimu.
Aku ingin mempercayai bahwa yang mereka maksud itu bukan kamu. Tapi aku tak bisa apa-apa karena tak kupungkiri jika kamu memang menarik. Sangat menarik. Bukan hanya tulisanmu. Aku memang menyukai tulisanmu dan dengan gamblang dan jelas aku pernah mengakuinya. Namun bukan itu yang membuatku suka, karena toh pada faktanya banyak orang yang kusuka tulisannya. Ada hal lain yang entah apa tak bisa terdefinisi oleh apapun. Aku hanya wanita biasa yang terlihat tegar diluar tapi menahan gejolak didalam. Wanita memang pandai menyembunyikan perasaan. Apakah semua wanita juga seperti itu? Entahlah, yang jelas aku hanya wanita biasa.
7 september 2012
Masih teringat dengan jelas bagaimana rasa sakit yang mendera, masih terekam dengan jelas bagaimana sakitnya babak belur itu. Ah, baru saja aku bangkit apakah akan mengulangi rasa yang sama seperti dulu. Tak bisa dipungkiri dia memang menarik. Tulisannya membuat banyak wanita menaruh perhatian terhadapnya. Tapi jujur bukan itu saja yang membuatku terbius. Ada beberapa hal tak terdefinisi yang membuatnya hidup dalam ingatanku. Entahlah, aku menyukai semua tentangnya, bahkan yang orang lain tak menyukainya. Aku menyukai semua tentangnya.
Aku hanya wanita biasa, mungkin wajar saja bila kadang terlintas dalam anganku untuk berharap padanya. Aku hanya wanita biasa. Aku tak mampu jika harus merasakan rasa sakit seperti dulu. Aku takut jika harus sakit dan hancur lebur seperti dulu. Aku tak mau mengulanginya lagi. Aku sungguh takut.
Aku tak sanggup jika harus merasakan setiap inci dari perasaanku terkuras tercincang dan terpukul rata. Mungkin karena sikap pengecutku itulah yang membuatku seperti ini. Aku memang terlalu takut menghadapi perasaan itu. Apalagi jika harus mengakuinya. Semua tak lebih karena rasa takut untuk merasakan sakit. Aku hanya takut suatu saat pertahananku meruntuh.
**
Cerita-cerita itu terkadang membuatku terhenyak. Namun aku tetap saja tak peduli seolah aku tuli. Atau pura-pura tuli?. Aku hanya bisa tersenyum saat mendengarnya dengan semangat bercerita tentangmu. Kalau saja dia tahu bahwa aku ingin menutup telingaku saat itu pura-pura tak mendengar saja. Namun aku tetap saja mendengarnya dan hanya bisa tersenyum. Tidak hanya dia yang ada didekatku, tak berapa lama orang lain yang pernah dekat denganmu pun bercerita dengan semangat 45 tentangmu. Tentang kebersamaan kalian. Aku serasa ingin tuli atau minimal aku ingin mempercayai bahwa dua orang yang bercerita ini bukan kamu yang dimaksud. Aku tak ingin percaya bahwa dua orang ini begitu menggilaimu, begitu terobsesi dan menyukaimu.
Aku ingin mempercayai bahwa yang mereka maksud itu bukan kamu. Tapi aku tak bisa apa-apa karena tak kupungkiri jika kamu memang menarik. Sangat menarik. Bukan hanya tulisanmu. Aku memang menyukai tulisanmu dan dengan gamblang dan jelas aku pernah mengakuinya. Namun bukan itu yang membuatku suka, karena toh pada faktanya banyak orang yang kusuka tulisannya. Ada hal lain yang entah apa tak bisa terdefinisi oleh apapun. Aku hanya wanita biasa yang terlihat tegar diluar tapi menahan gejolak didalam. Wanita memang pandai menyembunyikan perasaan. Apakah semua wanita juga seperti itu? Entahlah, yang jelas aku hanya wanita biasa.
7 september 2012
Selasa, 17 Juli 2012
Sudah berjalan terlalu jauh
Saya mengenalnya baru beberapa bulan yang lalu. Awalnya saya tertarik dengan semua tulisannya. Yang saat itu saya lagi gendeng belajar nulis. Semua tulisan-tulisan yang ada di catatan orang saya lahap, termasuk tulisannya.
Singkat cerita saya ngeadd tuh orang dan akhirnya kenalan dan berlanjut terus sampe sekarang. Entah lewat fb ataupun sms. Saya menganggapnya sebagai orang yang lebih senior dari saya dan saya menghormatinya. Hanya saja setelah tak rasak-rasakno apa saya ini terlalu berlebihan ya. Masak tiap hari smsan kalau nggak gitu chatingan, gak penting pula.
Ah sepertinya memang sudah berjalan terlalu jauh.
Orang dulu waktu saya pacaran ajah gak sesering itu sms’an. Bahkan kadang jarang sms’an. Mau sms duluan juga gengsi, akhirnya gak sms’an. Sms’an kalau di sms duluan baru tak bales. Masak sama orang yang baru dikenal udah sefulgar itu. Sepertinya memang sudah berjalan terlalu jauh.
Dan parahnya kalau sama tuh orang saya bisa bebas berekspresi, mau gendeng kayak apa terserah. Sedikit banyak dia tahu kalau saya ini memang gendeng. Walaupun memang tak ada apa-apa, saya hanya takut semua kemungkinan yang tidak diinginkan bisa terjadi. Dan saya tak mau bermain-main dengan hati dan perasaan. Mungkin yang perlu dilakukan adalah membatasi interaksi itu saja.
Semangat nulis
Masih inget beberapa bulan yang lalu saya seperti entah terkena sihir apa. Rasanya semangat banget buat nulis. Semangat saya meledak-ledak dan meluap-luap. Akhirnya demi memenuhi hasrat saya yang begitu besar, saya rajin banget nulis, gak peduli walaupun itu gak penting yang penting saya nulis, nulis,nulis dan nulis buat latihan. Saya banyak ngirim opini ke media-media walaupun gak ada yang dimuat, he..
Saya pun bergabung di grup belajar nulis di situs jejaring sosial, saya rajin cari info dan ikut even lomba nulis. Disana saya ketemu banyak orang yang menurutku hebat dalam dunia tulis menulis (tetap dengan genre ideologois, mau cerpen, surat pembaca, opini, artikel dll pokok’e semua kudu ideologis). Menyenangkan sekali ternyata dunia tulis menulis itu jadi agak menyesal kemana saja saya dulu. Banyak yang bisa saya dapat di grup itu tentunya semakin membuatku semangat untuk nulis.
Tak hanya itu saya juga belajar dari membaca catatan-catatan orang yang suka nulis. Kebanyakan yang saya baca tulisan-tulisannya yang “ngaji”. Catatan penulis seperti adi wijaya juga tak lahap semua tulisannya (menurutku tulisannya cantik dan nyastra), pak kusnady (bahasanya tinggi, kadang gak mudeng), hikari inqilabi (tulisannya remaja banget, bahasanya ngepop dan renyah dibaca), juga penulis-penulis yang ada di grup belajar nulis tak add semua, blognya akin, dan masih banyak yang lainnya. Saya seperti jadi seorang pengamat, kalau saya menemukan orang “mambu-mambu” penulis tak berpikir panjang langsung saya add deh. Intinya ternyata setiap penulis punya gaya tulisan yang berbeda-beda antara satu dan lainnya. Dan saya masih belum tahu model seperti apa tulisan saya. Masih gak jelas, masih harus terus belajar dan belajar lagi.
Sampai ketika suatu saat salah seorang sahabat saya ngambek dan itu saya ketahui dari salah seorang teman juga. Intinya dia gak suka dengan segala aktivitas yang saya lakukan. Karena intensitas kami juga semakin jarang bertemu, padahal kami sedang mengerjakan penelitian bersama. Jadilah sejak saat itu saya ndelik” kalau mau nulis dmei menjaga hatinya biar gak marah sama saya, facebookan pun juga ndak boleh takut konsentrasi terganggu dalam mengerjakan skripsi. Jadilah aku ndelik” kalau soal tulis menulis dan facebookan. Dia pengennya kita berhenti dulu fb sebentar selama masa skripsi ini. Tapi dasarnya aku yo nakalan, tetep ajah aku fban, lha disana banyak info serta kawan-kawan penulis banyak yang ada di fb, belum grup nulis juga di fb. Intinya saya sulit jika harus langsung meninggalkan dunia fb.
Saya senang sekali rasanya menggali ilmu dari yang saya anggap senior. Oh iya saya juga akhirnya ketemu dengan seorang yang sama-sama satu kota, tulisannya unik dan saya suka. Tanpa malu dan gengsi, saya pun langsung ngeadd dan ketika ada kesempatan ngomong ke orangnya kalau saya suka dengan tulisannya. Salah satu bentuk apresiasi atas tulisannya yang bagus. Yang jelas hanya tulisannya bukan dengan orangnya. Banyak yang melabeli kalau dia sesat, liar, dan lainnya tapi saya toh tak begitu peduli bahkan ada yang ngomong ke sayakalau dia itu lagi kena virus filsafat. Masa bodoh omongan orang. Yang jelas saya hanya suka tulisannya titik. Dan saya menghormatinya sebagai seorang senior. Mau orangnya kayak gimana masa bodoh. Bagus lagi kalau ada kesempatan buat nyuri-nyuri ilmu darinya.
Sekarang gak tahu kenapa hasrat menulisku tak lagi seperti dulu, apalagi saat ini lagi skripsi (alasan klise, ha..). Sebenernya hasratku masih tetap besar, namun intensitas menulisku mulai menurun. Yang dulu giat ngirim ke media walaupun gak pernah dimuat sekarang udah gak pernah nulis buat dikirm paling cuma buat hiasan di blog dan salah satu folder di lepiku.
Mimpiku pun masih sama. Entah besok mau jadi apapun aku. Aku tetap ingin menulis. Saya selalu terobsesi dan termotivasi melihat orang dengan kesibukan luar biasa tetap menyempatkan untuk menulis. Apalagi jika dia seorang ibu, seperti mbak-mbak yang ada di grup belajar nulis (rata-rata yang produktif nulis malah yang udah ibu-ibu, bener-bener salut sama mereka). Kelak aku pengen seperti mereka. Aku ingin jadi seorang ibu, seorang pengajar, juga seorang penulis. Itu salah satu mimpiku. Keep fight untuk terus belajar dan belajar. dimana saja, dengan siapa saja dan juga kapan saja.
17-07-12
Saya pun bergabung di grup belajar nulis di situs jejaring sosial, saya rajin cari info dan ikut even lomba nulis. Disana saya ketemu banyak orang yang menurutku hebat dalam dunia tulis menulis (tetap dengan genre ideologois, mau cerpen, surat pembaca, opini, artikel dll pokok’e semua kudu ideologis). Menyenangkan sekali ternyata dunia tulis menulis itu jadi agak menyesal kemana saja saya dulu. Banyak yang bisa saya dapat di grup itu tentunya semakin membuatku semangat untuk nulis.
Tak hanya itu saya juga belajar dari membaca catatan-catatan orang yang suka nulis. Kebanyakan yang saya baca tulisan-tulisannya yang “ngaji”. Catatan penulis seperti adi wijaya juga tak lahap semua tulisannya (menurutku tulisannya cantik dan nyastra), pak kusnady (bahasanya tinggi, kadang gak mudeng), hikari inqilabi (tulisannya remaja banget, bahasanya ngepop dan renyah dibaca), juga penulis-penulis yang ada di grup belajar nulis tak add semua, blognya akin, dan masih banyak yang lainnya. Saya seperti jadi seorang pengamat, kalau saya menemukan orang “mambu-mambu” penulis tak berpikir panjang langsung saya add deh. Intinya ternyata setiap penulis punya gaya tulisan yang berbeda-beda antara satu dan lainnya. Dan saya masih belum tahu model seperti apa tulisan saya. Masih gak jelas, masih harus terus belajar dan belajar lagi.
Sampai ketika suatu saat salah seorang sahabat saya ngambek dan itu saya ketahui dari salah seorang teman juga. Intinya dia gak suka dengan segala aktivitas yang saya lakukan. Karena intensitas kami juga semakin jarang bertemu, padahal kami sedang mengerjakan penelitian bersama. Jadilah sejak saat itu saya ndelik” kalau mau nulis dmei menjaga hatinya biar gak marah sama saya, facebookan pun juga ndak boleh takut konsentrasi terganggu dalam mengerjakan skripsi. Jadilah aku ndelik” kalau soal tulis menulis dan facebookan. Dia pengennya kita berhenti dulu fb sebentar selama masa skripsi ini. Tapi dasarnya aku yo nakalan, tetep ajah aku fban, lha disana banyak info serta kawan-kawan penulis banyak yang ada di fb, belum grup nulis juga di fb. Intinya saya sulit jika harus langsung meninggalkan dunia fb.
Saya senang sekali rasanya menggali ilmu dari yang saya anggap senior. Oh iya saya juga akhirnya ketemu dengan seorang yang sama-sama satu kota, tulisannya unik dan saya suka. Tanpa malu dan gengsi, saya pun langsung ngeadd dan ketika ada kesempatan ngomong ke orangnya kalau saya suka dengan tulisannya. Salah satu bentuk apresiasi atas tulisannya yang bagus. Yang jelas hanya tulisannya bukan dengan orangnya. Banyak yang melabeli kalau dia sesat, liar, dan lainnya tapi saya toh tak begitu peduli bahkan ada yang ngomong ke sayakalau dia itu lagi kena virus filsafat. Masa bodoh omongan orang. Yang jelas saya hanya suka tulisannya titik. Dan saya menghormatinya sebagai seorang senior. Mau orangnya kayak gimana masa bodoh. Bagus lagi kalau ada kesempatan buat nyuri-nyuri ilmu darinya.
Sekarang gak tahu kenapa hasrat menulisku tak lagi seperti dulu, apalagi saat ini lagi skripsi (alasan klise, ha..). Sebenernya hasratku masih tetap besar, namun intensitas menulisku mulai menurun. Yang dulu giat ngirim ke media walaupun gak pernah dimuat sekarang udah gak pernah nulis buat dikirm paling cuma buat hiasan di blog dan salah satu folder di lepiku.
Mimpiku pun masih sama. Entah besok mau jadi apapun aku. Aku tetap ingin menulis. Saya selalu terobsesi dan termotivasi melihat orang dengan kesibukan luar biasa tetap menyempatkan untuk menulis. Apalagi jika dia seorang ibu, seperti mbak-mbak yang ada di grup belajar nulis (rata-rata yang produktif nulis malah yang udah ibu-ibu, bener-bener salut sama mereka). Kelak aku pengen seperti mereka. Aku ingin jadi seorang ibu, seorang pengajar, juga seorang penulis. Itu salah satu mimpiku. Keep fight untuk terus belajar dan belajar. dimana saja, dengan siapa saja dan juga kapan saja.
17-07-12
Minggu, 15 Juli 2012
"GOBLOK"NYA AKU
Pengen ketawa ngakak kalau inget-inget jaman dahulu kala. Jaman masa masih unyu2, masih polos dan lugu. menertawakan diri sendiri terkadang juga menyenangkan sembari muhasabah diri, jangan sampai kejadian yang sama terulang kembali.
Iseng-iseng buka blog jaman dahulu ternyata masih ada juga tuh blog.
Blog yang berisi kumpulan puisi dari tuan sebrang pulau. Tapi gara-gara dulu putus sudah banyak yang saya hapus tinggal beberapa. Habis itu blognya nganggur gak keurus.
Gara-gara dulu putus juga dulu berat badanku turun drastis, dalam beberapa bulan turun sampai 5kiloan lebih padahal dulu aku masih keceng banget gak gemuk seperti sekarang ini, jadilah aku semakin kurus tak terurus,hhhoho,,lebay..
Ini nih blog yang berisi kumpulan puisi-puisi yang sekarang kalau saya baca bikin ngakak pengen muntah. Kok ya aku mau-maunya digombalin gombal amoh..ck..ck..
Sayangnya aku bukan orang yang pandai berpuisi ria, jadilah sms-sms darinya jarang aku balas, kalaupun tak balas paling tak balas "iya" (iyoni lak wes ben wonge seneng, wkwkkw). Bahkan dia sering marah gara-gara aku gak pernah mau ngomong kata-kata gombal seperti sayang dan cinta (haha,,,ini gara-gara gengsi super njedug, enak ae sayang-sayang. belum juga sah. kok pinter ya aku dulu wes mikir gitu,,wkwk). Daripada sms-sms darinya numpuk di inboxku akhirnya aku taruh deh di dua tempat, yang pertama di blog dan yang kedua di sebuah buku. setiap puisi yang dia kirim aku tulis lengkap sampai tanggal dan jam, menit dan detiknya tak tulis semua.
Kalau yang ditulis dibuku itu saya terinspirasi oleh temennya kakak saya. Kakak saya pernah bercerita kalau temannya itu selalu menulis semua sms dari pacarnya kedalam sebuah buku, nah pas putus dikasih tuh buku ke mantan pacarnya itu.
Saat mendengar kisah itu, sayapun jadi terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Jadi ntar kalau putus aku kasih deh buku itu (wah berarti secara nggak langsung saya sudah merencanakan untuk putus dong, hahaha,,,), ini ceritanya tuan sebrang pulau gak tahu kalau saya nulis blog n nulis buku diary berisi puisi-puisinya. Nulis-nulis di blog dan diary ini nih bentuk keromantisanku. Biar orangnya gengsian tapi saya mempunyai tingkat keromantisan yang lumayan tinggi, buku diary itu tuh buktinya.
Sebelum tuan sebrang pulau pulang kekampung halamannya, gak taunya dia ngasih fotonya sama minjemin buku tebel-tebel (kayak kitab2 gitu deh, buku2 islami). biar aku nggak sendiri katanya, biar ngisi waktu dengan hal yang bermanfaat, membaca buku. Biar pas balik ke malang bisa diskusiin isi buku ntu.
Ternyata takdir berkata lain, saat dia balik ke Malang malah kami putus (cerita putusnya panjang ruwet bin njilmet, jadi gak perlu dijelasin. singkat cerita kami putus gitu aja). Yah, malam itulah sewaktu dia udah balik ke Malang. Saya disuruh kekostnya ngambil oleh-oleh. padahal sebelumnya mana pernah saya mau diajak kekostnya. gak pernah, bahkan menginjakkan kaki diterasnya saja tidak pernah (gengsi rek, cah wedok je,..). Saya yang disuruh ngambil karena saat itu dia lagi sakit, habis kecelakaan saat lebaran, kakinya yang kena jadi kalau jalan cincok2.(katanya sih kecelakaan pas lebaran naik motor karena disana gak ada sinyal jadi pas mau nelpon saya, harus pergi kesuatu tempat yang jauh yang ada sinyalnya, melase rek,,sakno.. mau telpon aja pake kecelakaan segala).
Ada misi lain kenapa sampai saya mau kekostnya, yakni saya ingin mengembalikan kitab2 yang dia pinjamkan beserta foto yang dia berikan dan buku diary itu. Biar segera selesai dan tuntas apa yang ada diantara kami. Eh sekarang baru nyesel kenapa juga dulu bukunya tak balikin padahhal belum selesai dibaca bukunya toh orangnya juga gak minta kembali,(jadi inget sabdanya gusdur, orang yang mengembalikan buku adalah orang gila,wkwkkw..berarti aku gila dong).
Walaupun saya kekostnya tapi perlu dicatat saya gak sampai masuk pagar, jadi masih dipinggir jalan (menyangkut prinsip, sieh,,gaya,,haha). setelah bertemu cuman bertukar barang, dia ngasih oleh2 jajan, saya ngasihkan barang2nya. Ngomong terima kasih dan minta maaf, sudah itu saja selesai.
Tamat sudah kegilaan saya, walaupun habis itu menangis semalaman.wkwkkw..(gobloknya)..
iyah saya jadi teringat perkataan seorang kawan,
MASA LALU BOLEH NAJIS TAPI MASA DEPAN MASIH SUCI KAWAN. aku suka kata-kata itu, apik. Membangkitkan semangat untuk terus belajar dan berusaha menjadi lebih baik lagi :)
Iseng-iseng buka blog jaman dahulu ternyata masih ada juga tuh blog.
Blog yang berisi kumpulan puisi dari tuan sebrang pulau. Tapi gara-gara dulu putus sudah banyak yang saya hapus tinggal beberapa. Habis itu blognya nganggur gak keurus.
Gara-gara dulu putus juga dulu berat badanku turun drastis, dalam beberapa bulan turun sampai 5kiloan lebih padahal dulu aku masih keceng banget gak gemuk seperti sekarang ini, jadilah aku semakin kurus tak terurus,hhhoho,,lebay..
Ini nih blog yang berisi kumpulan puisi-puisi yang sekarang kalau saya baca bikin ngakak pengen muntah. Kok ya aku mau-maunya digombalin gombal amoh..ck..ck..
Sayangnya aku bukan orang yang pandai berpuisi ria, jadilah sms-sms darinya jarang aku balas, kalaupun tak balas paling tak balas "iya" (iyoni lak wes ben wonge seneng, wkwkkw). Bahkan dia sering marah gara-gara aku gak pernah mau ngomong kata-kata gombal seperti sayang dan cinta (haha,,,ini gara-gara gengsi super njedug, enak ae sayang-sayang. belum juga sah. kok pinter ya aku dulu wes mikir gitu,,wkwk). Daripada sms-sms darinya numpuk di inboxku akhirnya aku taruh deh di dua tempat, yang pertama di blog dan yang kedua di sebuah buku. setiap puisi yang dia kirim aku tulis lengkap sampai tanggal dan jam, menit dan detiknya tak tulis semua.
Kalau yang ditulis dibuku itu saya terinspirasi oleh temennya kakak saya. Kakak saya pernah bercerita kalau temannya itu selalu menulis semua sms dari pacarnya kedalam sebuah buku, nah pas putus dikasih tuh buku ke mantan pacarnya itu.
Saat mendengar kisah itu, sayapun jadi terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Jadi ntar kalau putus aku kasih deh buku itu (wah berarti secara nggak langsung saya sudah merencanakan untuk putus dong, hahaha,,,), ini ceritanya tuan sebrang pulau gak tahu kalau saya nulis blog n nulis buku diary berisi puisi-puisinya. Nulis-nulis di blog dan diary ini nih bentuk keromantisanku. Biar orangnya gengsian tapi saya mempunyai tingkat keromantisan yang lumayan tinggi, buku diary itu tuh buktinya.
Sebelum tuan sebrang pulau pulang kekampung halamannya, gak taunya dia ngasih fotonya sama minjemin buku tebel-tebel (kayak kitab2 gitu deh, buku2 islami). biar aku nggak sendiri katanya, biar ngisi waktu dengan hal yang bermanfaat, membaca buku. Biar pas balik ke malang bisa diskusiin isi buku ntu.
Ternyata takdir berkata lain, saat dia balik ke Malang malah kami putus (cerita putusnya panjang ruwet bin njilmet, jadi gak perlu dijelasin. singkat cerita kami putus gitu aja). Yah, malam itulah sewaktu dia udah balik ke Malang. Saya disuruh kekostnya ngambil oleh-oleh. padahal sebelumnya mana pernah saya mau diajak kekostnya. gak pernah, bahkan menginjakkan kaki diterasnya saja tidak pernah (gengsi rek, cah wedok je,..). Saya yang disuruh ngambil karena saat itu dia lagi sakit, habis kecelakaan saat lebaran, kakinya yang kena jadi kalau jalan cincok2.(katanya sih kecelakaan pas lebaran naik motor karena disana gak ada sinyal jadi pas mau nelpon saya, harus pergi kesuatu tempat yang jauh yang ada sinyalnya, melase rek,,sakno.. mau telpon aja pake kecelakaan segala).
Ada misi lain kenapa sampai saya mau kekostnya, yakni saya ingin mengembalikan kitab2 yang dia pinjamkan beserta foto yang dia berikan dan buku diary itu. Biar segera selesai dan tuntas apa yang ada diantara kami. Eh sekarang baru nyesel kenapa juga dulu bukunya tak balikin padahhal belum selesai dibaca bukunya toh orangnya juga gak minta kembali,(jadi inget sabdanya gusdur, orang yang mengembalikan buku adalah orang gila,wkwkkw..berarti aku gila dong).
Walaupun saya kekostnya tapi perlu dicatat saya gak sampai masuk pagar, jadi masih dipinggir jalan (menyangkut prinsip, sieh,,gaya,,haha). setelah bertemu cuman bertukar barang, dia ngasih oleh2 jajan, saya ngasihkan barang2nya. Ngomong terima kasih dan minta maaf, sudah itu saja selesai.
Tamat sudah kegilaan saya, walaupun habis itu menangis semalaman.wkwkkw..(gobloknya)..
iyah saya jadi teringat perkataan seorang kawan,
MASA LALU BOLEH NAJIS TAPI MASA DEPAN MASIH SUCI KAWAN. aku suka kata-kata itu, apik. Membangkitkan semangat untuk terus belajar dan berusaha menjadi lebih baik lagi :)
Perjodohan Bertepuk Sebelah Tangan
Berawal ketika ada persetegangan dalam keluarga yang bertema “anak hilang”. Ketakutan seorang ibu ketika mempunyai anak gadis yang menginjak dewasa, karena dipungkiri atau tidak suatu saat pasti akan ada pangeran berkuda putih yang akan membawa puteri kecilnya ke kerajaannya sendiri. Apalagi dengan hanya dua puteri, yang sulung sudah menikah dan punya rumah sendiri di kota sebelah.
Berita jika si bungsu mempunyai teman dekat laki-laki membuat sang ibu hanya bisa tersenyum, mungkin dalam batinya (wes gede rek anakku, he,,). Namun ketika mendengar berita selanjutnya bahwa teman laki-laki putrinya itu adalah berasal dari luar pulau di negeri antah berantah yang bahkan sinyal pun sulit dan jarang mampir ke telepon seluler, membuat sang ibu ketar ketir. Hal ini membuatnya hanya bisa menelan ludah tak rela jika membayangkan sang anak dibawa kesana. Tak mungkin jika terang-terangan untuk melarang. Iya kalau disana hidupnya mapan alias kaya bisa satu tahun sekali pulang, jika hidupnya hanya biasa-biasa saja bisa-bisa puterinya tadi jadi anak hilang yang tak pernah pulang.
Berita selanjutnya membuat sang ibu bisa bernafas sedikit lebih lega. Karena ternyata si puteri kecilnya sudah putus hubungan dengan teman laki-lakinya itu. Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan sang ibu ternyata punya rencana lain. Ternyata sang ibu punya pangeran idaman lain untuk si putri kecil. Dengan segala daya upaya sang ibu berusaha membujuk puterinya, atau istilahnya ngompor-ngomporin agar si anak mau untuk suka dengan tetangga sebelah “pager ijo”. Si “pager ijo” yang lebih tua dua tahun dari puteri kecil tadi setelah ditelusuri ternyata adalah seorang atlet lokal. Pemain sepak bola didesa sang ibu dan puterinya tinggal. Dulu ia kuliah jurusan olahraga di salah satu universitas di Surabaya. Juga ngajar ekstra renang di salah satu sma negeri di kota tuban. Anak seorang guru agama, keluarganya juga terpandang sebagai seorang kamdiyah.
Hubungan yang baik antara kedua keluarga mungkin juga menjadi salah satu alasan kenapa sang ibu begitu ngebet gebetin puterinya itu. Salah satu alasan lain lagi adalah mungkin karena si puteri kecilnya itu dulu sewaktu masih kecil (kalau gak salah waktu duduk di bangku sma) kagum pada sosok “pager ijo” hanya karena orangnya pendiam dan kelihatannya gak neko-neko, info itu didapat dari puteri sulungnya. Padahal si puteri kecilnya tadi dulu hanya sebatas kagum tidak lebih itupun hanya waktu itu. Namanya saja lagi puber.haha..pasti ada benih-benih bunga tak semestinya tumbuh. padahal hanya saat itu saja kagumnya, setelah itu yo gak, biasa aja.
Sang ibu selalu ngompor-ngomporin agar si puterinya tadi mau dan suka pada “pager ijo”. Sampai-sampai jika si anak ada dirumah bosan mendengar ibunya godain serta hanya bisa tersenyum dan tersipu malu karena digoda didepan banyak orang. Ia sudah membayangkan betapa tidak relanya ia ketika melihat suaminya mengajari renang cewek-cewek. Ah bukan itu saja yang jadi pertimbangan kenapa si puteri kecil tadi ogah dan tidak mau menambatkan hati pada tuan “pager ijo” tapi masih banyak yang lain yang menjadi pertimbangan. dan yang paling utama karna memang gak seneng, lha nek gak seneng terus piye. Walaupun jika seandainya perjodohan itu jadi, ia tak mungkin bisa menolak dan hanya bisa “sami’na waato’na”.
Disuatu hari sang ibu diteri gemblong oleh adik perempuan dari si “pager ijo” katanya kakaknya sudah digemblong alias lamaran dengan cewek yang juga satu desa. Akhirnya sang ibu bercerita pada si puteri kecilnya. Si anak hanya tertawa mendengar sang ibu bercerita, terlihat gurat kekecewaan sang ibu yang tadinya begitu ngotot dan ngebet untuk gebetin puterinya itu. Namun disisi lain si anak tersenyum lega akhirnya mau nikah juga tuh orang. Biar si ibu gak macem-macem mau jodoh-jodohin lagi.
Ibu jangan kuatirkan puterimu ini. Tenang saja, aku tahu apa maumu. Kalaupun tidak satu kota, tetangga kota juga tak apa kan? Minimal masih satu pulau seperti maumu. insyaAllah yang terbaiklah yang akan kubawa kehadapanmu Ibu. Itulah kenapa walaupun dulu tuan sebrang pulau nekat maksa untuk datang kerumah aku tak pernah mau. Akupun masih akan mikir-mikir ribuan kali untuk jadi anak hilang, apalagi tanpa restumu tak perlu mikir pun akan kutinggalkan. Doakan saja puterimu ini mendapatkan yang terbaik. Aamiin.
Berita jika si bungsu mempunyai teman dekat laki-laki membuat sang ibu hanya bisa tersenyum, mungkin dalam batinya (wes gede rek anakku, he,,). Namun ketika mendengar berita selanjutnya bahwa teman laki-laki putrinya itu adalah berasal dari luar pulau di negeri antah berantah yang bahkan sinyal pun sulit dan jarang mampir ke telepon seluler, membuat sang ibu ketar ketir. Hal ini membuatnya hanya bisa menelan ludah tak rela jika membayangkan sang anak dibawa kesana. Tak mungkin jika terang-terangan untuk melarang. Iya kalau disana hidupnya mapan alias kaya bisa satu tahun sekali pulang, jika hidupnya hanya biasa-biasa saja bisa-bisa puterinya tadi jadi anak hilang yang tak pernah pulang.
Berita selanjutnya membuat sang ibu bisa bernafas sedikit lebih lega. Karena ternyata si puteri kecilnya sudah putus hubungan dengan teman laki-lakinya itu. Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan sang ibu ternyata punya rencana lain. Ternyata sang ibu punya pangeran idaman lain untuk si putri kecil. Dengan segala daya upaya sang ibu berusaha membujuk puterinya, atau istilahnya ngompor-ngomporin agar si anak mau untuk suka dengan tetangga sebelah “pager ijo”. Si “pager ijo” yang lebih tua dua tahun dari puteri kecil tadi setelah ditelusuri ternyata adalah seorang atlet lokal. Pemain sepak bola didesa sang ibu dan puterinya tinggal. Dulu ia kuliah jurusan olahraga di salah satu universitas di Surabaya. Juga ngajar ekstra renang di salah satu sma negeri di kota tuban. Anak seorang guru agama, keluarganya juga terpandang sebagai seorang kamdiyah.
Hubungan yang baik antara kedua keluarga mungkin juga menjadi salah satu alasan kenapa sang ibu begitu ngebet gebetin puterinya itu. Salah satu alasan lain lagi adalah mungkin karena si puteri kecilnya itu dulu sewaktu masih kecil (kalau gak salah waktu duduk di bangku sma) kagum pada sosok “pager ijo” hanya karena orangnya pendiam dan kelihatannya gak neko-neko, info itu didapat dari puteri sulungnya. Padahal si puteri kecilnya tadi dulu hanya sebatas kagum tidak lebih itupun hanya waktu itu. Namanya saja lagi puber.haha..pasti ada benih-benih bunga tak semestinya tumbuh. padahal hanya saat itu saja kagumnya, setelah itu yo gak, biasa aja.
Sang ibu selalu ngompor-ngomporin agar si puterinya tadi mau dan suka pada “pager ijo”. Sampai-sampai jika si anak ada dirumah bosan mendengar ibunya godain serta hanya bisa tersenyum dan tersipu malu karena digoda didepan banyak orang. Ia sudah membayangkan betapa tidak relanya ia ketika melihat suaminya mengajari renang cewek-cewek. Ah bukan itu saja yang jadi pertimbangan kenapa si puteri kecil tadi ogah dan tidak mau menambatkan hati pada tuan “pager ijo” tapi masih banyak yang lain yang menjadi pertimbangan. dan yang paling utama karna memang gak seneng, lha nek gak seneng terus piye. Walaupun jika seandainya perjodohan itu jadi, ia tak mungkin bisa menolak dan hanya bisa “sami’na waato’na”.
Disuatu hari sang ibu diteri gemblong oleh adik perempuan dari si “pager ijo” katanya kakaknya sudah digemblong alias lamaran dengan cewek yang juga satu desa. Akhirnya sang ibu bercerita pada si puteri kecilnya. Si anak hanya tertawa mendengar sang ibu bercerita, terlihat gurat kekecewaan sang ibu yang tadinya begitu ngotot dan ngebet untuk gebetin puterinya itu. Namun disisi lain si anak tersenyum lega akhirnya mau nikah juga tuh orang. Biar si ibu gak macem-macem mau jodoh-jodohin lagi.
Ibu jangan kuatirkan puterimu ini. Tenang saja, aku tahu apa maumu. Kalaupun tidak satu kota, tetangga kota juga tak apa kan? Minimal masih satu pulau seperti maumu. insyaAllah yang terbaiklah yang akan kubawa kehadapanmu Ibu. Itulah kenapa walaupun dulu tuan sebrang pulau nekat maksa untuk datang kerumah aku tak pernah mau. Akupun masih akan mikir-mikir ribuan kali untuk jadi anak hilang, apalagi tanpa restumu tak perlu mikir pun akan kutinggalkan. Doakan saja puterimu ini mendapatkan yang terbaik. Aamiin.
Langganan:
Postingan (Atom)


